JAKARTA ,kontenborneo.com– Sektor pertanian Indonesia resmi memasuki babak baru dengan pengumuman penurunan harga pupuk nasional sebesar 20% tanpa menambah anggaran negara, sebuah langkah historis yang disebut sebagai “Revolusi Pupuk Nasional.” Gerakan besar di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman ini bertujuan merevolusi industri pupuk dari hulu ke hilir demi mencapai efisiensi, kebersihan, dan bebas mafia.
Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penurunan harga pupuk ini merupakan hasil nyata dari pembenahan menyeluruh tata kelola pupuk nasional.
“Hari ini kita umumkan kabar besar untuk seluruh petani Indonesia, atas arahan Bapak Presiden, kami melakukan revitalisasi sektor pupuk dari hulu ke hilir,” kata Mentan Amran dalam konferensi pers 1 tahun kinerja pembangunan pertanian pemerintahan Prabowo-Gibran di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (22/10/25).
Mentan menjelaskan, sistem distribusi yang sebelumnya melibatkan 12 menteri, 38 gubernur, 514 bupati/wali kota, dan total 145 regulasi, kini dipangkas. “Kini, cukup dari Kementerian Pertanian langsung ke pabrik, dan pabrik langsung ke petani,” tambahnya.
Langkah ini berhasil mempercepat penyaluran pupuk dan meningkatkan ketersediaan dua kali lipat, mencapai 9,55 juta ton, yang sebelumnya sering mengalami kelangkaan.
Harga Pupuk Turun Signifikan
Penurunan harga pupuk nasional sebesar 20% ini merupakan bagian dari kebijakan Presiden Prabowo untuk menekan biaya produksi petani tanpa menambah beban APBN. Penurunan ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah NKRI.
| Jenis Pupuk | Harga Lama | Harga Baru (Turun 20%) |
| Urea per Kilogram | Rp2.250 | Rp1.800 |
| Urea per Sak (50 kg) | Rp112.500 | Rp90.000 |
| NPK per Kilogram | Rp2.300 | Rp1.840 |
| NPK per Sak (50 kg) | Rp115.000 | Rp92.000 |
(red/kontenborneo.com/kementanri)