MUARA TEWEH, KONTENBORNEO – Pemerintah Kabupaten Barito Utara, di bawah kepemimpinan Bupati Shalahuddin dan Wakil Bupati Felix Sonadie, mulai merealisasikan janji kampanye di bidang pendidikan. Sebanyak 4.000 siswa-siswi di kabupaten tersebut menjadi penerima perdana bantuan dari program unggulan mereka, yakni Program SIP PINTAR.
Program ini merupakan bagian dari komitmen 100 hari kerja pasangan pemimpin daerah yang dikenal dengan visi beasiswa gratis 16 tahun. Penyaluran perdana dilakukan secara simbolis di tiga sekolah menengah pertama, yaitu SMPN 1, SMPN 2, dan SMPN 3 Muara Teweh, pada Senin (15/12/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Shalahuddin mengakui bahwa cakupan bantuan di tahun 2025 ini belum dapat menjangkau seluruh siswa di Barito Utara. Kendala utama terletak pada keterbatasan waktu dan kesiapan anggaran.
“Karena kami berdua ini kan baru dilantik di penghujung tahun, baru bekerja selama dua bulan, anggaran pun masih terbatas karena hanya anggaran perubahan,” jelas Shalahuddin.
Meski demikian, Bupati memberikan jaminan dan harapan besar untuk tahun depan. Ia menegaskan bahwa di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2026, program ini akan diperluas secara signifikan.
“Saya janji di anggaran tahun 2026 sebanyak 32 ribu siswa yang ada di Barito Utara akan merasakan program ini,” tegasnya.
Bupati juga membeberkan kriteria seleksi bagi 4.000 siswa penerima pertama tahun ini. Seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan dua aspek utama: prestasi akademik dan kondisi ekonomi keluarga.
“Siswa yang dipilih melalui dua penilaian, yaitu siswa berprestasi dan siswa kurang mampu,” ujarnya.
Shalahuddin pun memohon pengertian dan kesabaran bagi siswa yang belum mendapatkan bantuan. “Kami pastikan di tahun depan semua akan terbantu,” katanya seraya berharap program SIP PINTAR ini dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk lebih giat belajar.
Program SIP PINTAR di masa awal kepemimpinan Shalahuddin-Felix ini menjadi penanda dimulainya transformasi pendidikan di Barito Utara, menuju terwujudnya janji beasiswa 16 tahun yang berkelanjutan dan inklusif.(red/kontenborneo.com)

















