MUARA TEWEH ,kontenborneo– Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Barito Utara Bidang Administrasi Umum, H. Yaser Arapat, menegaskan bahwa pengadaan tanah untuk pembangunan pelebaran jalan dalam Kota Muara Teweh merupakan langkah strategis pemerintah daerah. Hal tersebut ia sampaikan dalam kegiatan sosialisasi pengadaan tanah yang berlangsung di Aula C Setda Barito Utara pada Senin (12/01). Sosialisasi ini dihadiri langsung oleh Bupati Barito Utara H. Shalahuddin, Kepala Dinas Perkimtan, serta masyarakat pemilik lahan yang terdampak rencana tersebut.
Dalam paparannya, H. Yaser Arapat menjelaskan bahwa berdasarkan kajian teknis Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) dari Dinas Perhubungan, volume kendaraan di dalam kota saat ini telah mencapai tingkat kepadatan yang sangat tinggi. Ia menilai, kapasitas jalan yang ada sekarang sudah tidak mampu lagi menampung aktivitas masyarakat yang terus meningkat setiap tahunnya, sehingga diperlukan solusi jangka panjang yang cepat dan tepat.
“Apabila kondisi ini diproyeksikan ke depan tanpa penanganan yang tepat, maka lalu lintas akan semakin tidak aman dan tidak nyaman. Secara teknis, kapasitas jalan yang ada sudah tidak memadai,” jelas Yaser Arapat di hadapan para pemilik lahan.
Yaser menambahkan bahwa pembukaan ruang jalan yang lebih luas bertujuan untuk mengantisipasi potensi kemacetan serta meminimalisir risiko kecelakaan bagi pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat. Ia mengingatkan para peserta sosialisasi bahwa pelebaran jalan di Muara Teweh terakhir kali dilakukan pada periode 2003–2004. Setelah hampir dua dekade, kebutuhan akan infrastruktur jalan yang lebih lebar menjadi hal yang tidak bisa ditunda lagi demi kenyamanan publik.
Selain mengenai jalan raya, H. Yaser Arapat juga memaparkan arahan Bupati terkait urgensi persiapan pembangunan Jembatan Hasan Basri II. Ia menjelaskan bahwa Jembatan Hasan Basri yang saat ini digunakan telah berusia hampir 30 tahun sejak diresmikan pada 1996, dengan sisa umur teknis yang diperkirakan tinggal sembilan tahun lagi. Oleh karena itu, perencanaan jembatan pengganti harus dilakukan sejak dini agar konektivitas wilayah tidak terputus di masa mendatang.
Pemerintah Kabupaten Barito Utara juga mulai mempertimbangkan rancangan infrastruktur modern secara terpadu untuk masa depan kota. Salah satu alternatif solusi yang sempat disinggung adalah kemungkinan pembangunan jalan layang (flyover) pada titik-titik dengan tingkat kepadatan tinggi, mengikuti model penataan kota-kota besar di Indonesia.
Menutup penjelasannya, H. Yaser Arapat berharap sosialisasi ini dapat memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat mengenai pentingnya penataan infrastruktur. Menurutnya, dukungan masyarakat dalam proses pengadaan tanah sangat krusial agar pembangunan jalan dan jembatan dapat berjalan lancar demi keamanan, kenyamanan, serta kelancaran lalu lintas bagi seluruh warga Barito Utara.

















