Alpriyano : Harga LPG 3 Kg Melambung di Eceran, DPRD Katingan Desak Pemkab Cari Solusi Konkret

0 comments

KASONGAN, kontenborneo.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Katingan, Alpriyano, memberikan perhatian serius terhadap harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi isi 3 Kg di tingkat pedagang eceran dalam beberapa bulan terakhir.

Menyikapi melambungnya harga LPG berwarna hijau tersebut, dirinya meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Katingan dan bagian ekonomi di Setda setempat agar menyikapi masalah ini dengan memberikan berbagai solusi.

“Di samping mencari akar permasalahannya, juga dicari solusinya, agar harga di tingkat eceran terjangkau oleh masyarakat berekonomi lemah,” harap Alpriyano kepada sejumlah awak media di lobi DPRD setempat, Jumat (31/10).

Alpriyano berharap Pemkab setempat segera mengambil langkah konkret guna menstabilkan harga LPG bersubsidi di tingkat pengecer yang jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Memang saya akui, pedagang eceran juga tidak mau rugi, jika kemungkinan harga belinya sudah tinggi maka pengecer pun harus meningkatkan harga jualnya juga,” ujarnya.

Terkait permintaan masyarakat agar harga LPG bersubsidi diturunkan dari tingkat eceran yang mencapai Rp 45 ribu/tabung, menurutnya, hal itu muncul atas dasar permintaan dari masyarakat Katingan, utamanya dari masyarakat kelas menengah ke bawah di wilayah Kecamatan Katingan Hilir.

“Permintaan masyarakat tersebut diketahui saat kami melakukan reses ke beberapa kelurahan dan desa yang termasuk di dapil Katingan I,” terang legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini. Wilayah dapil I meliputi Kecamatan Katingan Hilir, Tewang Sangalang Garing, dan Pulau Malan.

Sebagai kesimpulan, ia berharap kepada Pemkab Katingan melalui dinas terkait dan bagian ekonomi di Setda Katingan dapat memberikan solusi terbaik. Solusi ini bertujuan agar LPG bersubsidi selain tidak langka, juga memiliki harga beli yang terjangkau oleh masyarakat Katingan.

“Sehingga, bisa dibeli oleh masyarakat Katingan yang berpenghasilan rendah dan pelaku UMKM yang sangat tergantung pada komoditas ini,” harapnya. (red/ars/kontenborneo)